Selasa, 11 Oktober 2016

FLUIDA STATIS



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Fluida merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan kita seharihari. Dalam fisika, fluida diartikan sebagai suatu zat yang dapat mengalir. Zat fluida tersebut mencakup zat cair dan zat gas,  karena zat tersebut memiliki kemampuan untuk mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain dan tidak mempertahankan bentuk yang tetap. Lain halnya dengan zat padat yang tidak dapat mengalir seperti air dan udara, dan zat padat cenderung tegar dan mempertahankan bentuknya. Sehingga zat padat tidak dapat digolongkan ke dalam fluida (Alexander, 2008: 3). Selain zat padat, zat cair dan zat gas, terdapat suatu jenis zat lagi yang dinamakan plasma. Plasma merupakan zat gas yang terionisasi dan sering dinamakan sebagai wujud keempat dari materi. Keadaan plasma ini hanya terjadi pada temperatur yang sangat tinggi dan terdiri dari atom-atom yang terionisasi (elektron yang terpisah dari inti) (Giancoli, 2001: 324). Dalam hal ini, zat plasma juga tidak dapat digolongkan ke dalam fluida.
Fluida adalah kumpulan molekul yang tersusun secara acak dan melekat bersama-sama akibat suatu gaya kohesi lemah akibat gaya-gaya yang dikerjakan oleh dinding-dinding wadah (Serway dan Jewett, 2009: 638). Tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan konsep mekanika fluida. Setiap hari kita menghirupnya, meminumnya atau bahkan terapung atau teggelam di dalamnya. Setiap hari pesawat udara terbang melaluinya, kapal laut mengapung di atasnya, dan kapal selam dapat mengapung atau melayang di dalamnya. Air yang kita minum dan udara yang kita hirup juga bersirkulasi di dalam tubuh kita setiap saat, hingga kadang tidak kita sadari.
Semua fenomena di atas merupakan konsep dari mekanika fluida. Konsep tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu Fluida Statis (Fluida Diam) dan Fluida Dinamis (Fluida Bergerak). Yang ditinjau dalam Fluida Statis adalah ketika fluida yang sedang diam pada keadaan setimbang. Jadi kita meninjau fluida ketika tidak sedang bergerak. Sedangkan pada Fluida Dinamis, kita akan meninjau fluida ketika bergerak (Alexander, 2008: 3). Dalam makalah ini, kelompok kami akan membahas konsep mengenai “Fluida Statis” (Fluida Diam) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
1.2  RUMUSAN MASALAH
                   Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan massa jenis?
2.      Bagaimanakah konsep tekanan hidrostatis dalam tekanan fluida?
3.      Bagaimanakah konsep tekanan gauge dalam tekanan fluida?
4.      Bagaimanakah konsep tekanan mutlak dalam tekanan fluida?
5.      Apa saja penerapan konsep tekanan pada kehidupan sehari-hari?
6.      Bagaimanakah konsep Hukum Pascal dalam fluida statis?
7.      Apa saja  penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari-hari?
8.      Bagaimanakah konsep Hukum Archimedes dalam fluida statis?
9.      Apa saja  penerapan Hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari?
10.  Bagaimanakah konsep tegangan permukaan dalam fluida?
11.  Apa saja manfaat dari konsep tegangan permukaan?
12.  Bagaimanakah konsep kapilaritas dalam fluida?
13.  Apa saja penerapan sehari-hari dari konsep kapilaritas?
1.3. TUJUAN
                   Adapun tujuan secara umum yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1.      Mampu mendefinisikan pengertian massa jenis.
2.      Mampu menganalisi konsep tekanan hidrostatis dalam tekanan fluida.
3.      Mampu menganalisis konsep tekanan gauge dalam tekanan fluida.
4.      Mampu menganalisis konsep tekanan mutlak dalam tekanan fluida.
5.      Mampu menjelaskan penerapan konsep tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Mampu menganalisis konsep Hukum Pascal dalam fluida statis.
7.      Mampu menjelaskan penerapan Hukum Pascal dalam kehidupan sehari-hari.
8.      Mampu menganalisis konsep Hukum Archimedes dalam fluida statis.
9.      Mampu menjelaskan penerapan Hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari.
10.  Mampu menganalisis konsep tegangan permukaan dalam fluida.
11.  Mampu menyebutkan manfaat dari konsep tegangan permukaan.
12.  Mampu menganalisis konsep kapilaritas dalam fluida.
13.  Mampu menyebutkan manfaat dari konsep kapilaritas.
1.4. MANFAAT
                    Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan pengetahuann mengenai Fluida Statis bagi mahasiswa 1/B Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Ganesha.
2.      Menambah modul pembelajaran mengenai Fluida Statis.
3.      Memberikan tambahan wawasan mengenai Fluida Ststis.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.1           MASSA JENIS
Pernahkah Anda membandingkan berat antara kayu dan besi?Kadang –kadang dikatakan bahwa besar “lebih berat” dari pada kayu.Hal ini belum tentu benar karena satu batang kayu yang besar lebih berat dari paku besi.Yang seharusnya kita katakana adalah besi lebih rapat dari kayu.
 (dibaca “rho” ) merupakan huruf kecil dari abjad Yunani yang digunakan untuk menyatakan massa jenis. Satuan SI untuk massa jenis adalah kg/m3. Kadang-kadang massa jenis dinyatakan dalam satuan CGS yaitu gr/cm3.
Salah  satu  sifat  penting  dari  suatu  zat  adalah  kerapatan  atau yang sering disebut dengan  massa  jenisMassa jenis merupakan ukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Kerapatan atau massa jenis didefinisikan sebagai perbandingan massa terhadap volume suatu zat. Secara matematis dapat ditulis dalam persamaan: 
 


                                                                                                                        (2.1)
Keterangan:
 =massa jenis            (kg/m3)
= massa                   (kg)
 = volume                (m3)
         
Massa jenis adalah besaran khas yang menyatakan jenis suatu zat. Suatu zat yang sejenis walaupun ukuran dan massa bendanya berbeda, massa jenisnya tetap sama.Massa jenis dari suatu fluida dapat bergantung pada faktor lingkungan, seperti temperatur (suhu) dan tekanan. Seperti contoh ketika kita sedang memanaskan air, volume air akan bertambah. Air yang di panaskan menyebabkan molekul antar air akan merenggang.
Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama (Gumelar, 2008: tanpa halaman).
Berikut ini merupakan Tabel 2.1 Data Massa Jenis dari Beberapa Zatpada suhu 0˚C tekanan 1 atm.
Zat
Massa jenis (kg/m3)
Padat
Aluminium
2,70 × 103
Besi dan Baja
7,8 × 103
Tembaga
8,9 × 103
Timah
11,3 × 103
Emas
19,3 × 103
Beton
2,3 × 103
Granit
2,7 × 103
Kayu
0,3-0,9 × 103
Gelas
2,4-2,8 × 103
Es
0,917 × 103
Tulang
1,7-2,0 × 103
Cair
Air
1,00 × 103
Darah
1,05 × 103
Air laut
1,025 × 103
Air raksa
13,6 × 103
Alkohol
0,79 × 103
Bensin
0,68 × 103
Gas
Udara
1,29
Helium
0,179
Karbondioksida
1,98
Uap air
0,598

Contoh Soal
       Sebuah kubus memiliki massa 75 gram. Bila volume bola tersebut adalah125 cm3, tentukan massa jenis kubus tersebut!
       Penyelesaian:
       Diketahui:       m = 75 gr
                               V = 125 cm3
       Ditanya:           = . . . ?
Jawab:
          = 
            =  = 0,06 gr/cm3

       Alat Ukur Massa Jenis
            Massa jenis zat cair dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Mengukur massa jenis zat cair secara langsung dengan menggunakan hidrometer. Alat itu berupa tabung kaca berskala dan bagian bawahnya diberi pemberat (Gambar 2.1). Cara menggunakan alat ini yaitu dengan cara memasukkan zat cair yang ingin diketahui massa jenisnya ke dalam tabung kaca tersebut. Massa jenis zat cair dapat diketahui secara langsung dari skala yang segaris dengan permukaan zat cair.
Selain hidrometer, massa jenis juga dapat diukur dengan specific gravity(Gambar 2.2). Gravitasi khusus (specific gravity) dari suatu benda didefinisikan sebagai perbandingan massa jenis benda dengan massa jenis air pada suhu 4˚C. Berbeda dengan massa jenis, gravitasi khusus tidak bersatuan dan mempunyai nilai numerik sama dengan massa jenis benda tersebut bila dinyatakan dalam gr/cm3. Hal ini disebabkan karena massa jenis air pada suhu 4˚C sebesar 1 gr/cm3 (Efrizon, tanpa tahun: 114)
                             
(Sumber: http://mpi.uny.ac.id/content/006-hidrometerjpg)
(Sumber: www.lotusoverseas.com)
 Gambar 2.1 Hidrometer                          Gambar 2.2 Specific Gravity


2.1.2           TEKANAN FLUIDA
Tekanan didefinisikan sebagai gaya persatuan luas, dimana gaya F dipahami bekerja tegak lurus terhadap permukaan A. Secara matematis, tekanan dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:
 
                                                                                                                        (2.2)
Keterangan:
p = tekanan                 [Pascal (Pa)]
F = gaya                      [Newton (N)]
A = luas permukaan     [Meter persegi (m2)]
Satuan tekanan dapat dituliskan dalam satuan SI yaitu Newton per meter persegi (N/m2). Satuan ini dikenal dengan nama pascal (Pa), jadi 1 Pa = 1 N/m2. Untuk selanjutnya, satuan ini tidak banyak dipakai, dan yang sering digunakan dalam standar SI adalah yang diberikan harga awalan, seperti kPa atau Mpa. Dalam system satuan di Inggris, tekanan biasanya diberikan satuan poun per inci persegi (lb/in2). Ini biasanya ditulis dengan psi. Untuk pengkonversian biasanya 1 psi kurang lebih sama dengan 6,895 kPa (Sumardi, tanpa tahun: 1).
Untuk keperluan cuaca digunakan satuan atmosfer (atm), cmHg atau mmHd, dan milibar (mb).
1mb = 0,001 bar; 1 bar = 105 Pa
1 atm = 76 cmHg = 1,013 105 Pa= 1,01 bar
Ketika fluida berada dalam keadaan tenang, fluida memberikan gaya yang tegak lurus ke seluruh permukaan kontaknya. Misalnya air yang berada di dalam gelas, setiap bagian air tersebut memberikan gaya dengan arah tegak lurus terhadap dinding gelas. Jadi setiap bagian air memberikan gaya tegak lurus terhadap setiap satuan luas dari wadah yang di tempatinya. Gaya per satuan luas ini dikenal dengan istilah tekanan.

Penerapan Konsep Tekanan dalam Kehidupan Sehari-hari
a.     Kapak
Mata kapak dibuat tajam untuk memperbesar tekanan sehingga memudahkan tukang kayu dalam memotong atau membelah kayu. Orang yang memotong kayu dengan kapak yang tajam akan lebih sedikit mengeluarkan tenaganya daripada jika ia menggunakan kapak yang tumpul dengan gaya yang sama. Jadi, kapak yang baik adalah kapak yang mempunyai luas permukaan bidang yang kecil.Dalam bahasa sehari-hari luas permukaan kapak yang kecil disebut tajam.
b.      Sirip Ikan
Sirip ikan yang lebar memungkinkan ikan bergerak dalam air karena memperoleh gaya dorong dari gerakan siripnya yang lebar. Sirip ini memberikan tekanan yang besar ke air ketika sirip tersebut digerakkan. Akibatnya, ikan memperoleh gaya dorong air sebagai reaksinya.

a.      Sepatu Salju
                   Untuk dapat meluncur di atas kolam es beku, pemain luncur es menggunakan sepatu luncur. Sepatu luncur tersebut memiliki pisau pada bagian bawahnya (Gambar 2.3). Pisau ini memberi tekanan yang besar pada lantai es beku, hingga es yang berada tepat di bawah pisau mencair, tetapi di kiri-kanannya tidak. Cairan tepat di bawah pisau berfungsi sebagai pelumas, sedangkan es batu di kiri dan kanan pisau tetap mencengkram pisau, sehingga sepatu luncur beserta pemain dapat meluncur di atas kolam beku.
                   Jika pemain ski menggunakan sepatu luncur es, pisau memberi tekanan besar pada lapisan salju, hingga lapisan salju mencair dan pemain ski justru tidak dapat meluncur di atas salju. Oleh sebab itu, pemain ski harus menggunakan sepatu ski atau lebih dikenal dengan papan ski yang memiliki luas bidang cukup besar, seperti yang terlihat pada Gambar 2.4. Ini dilakukan agar tekanan yang diberikan pemain ski yang berdiri pada sepatu ski tidak membuat salju mencair, sehingga pemain ski dapat meluncur di atas salju.
         
(Sumber: www.world.kbs.co.kr)
(Sumber: www.tessarahmadewi.multiply.com)
      Gambar 2.3 Sepatu luncur es                                          Gambar 2.4 Papan ski


       Tekanan Hidrostatis
                   Fluida tidak dapat menahan tegangan geser ataupun tegangan tarik. Oleh karena itu, satu-satunya tekanan yang dapat diberikan pada benda yang dibenamkan dalam fluida yang statis adalah tekanan yang cenderung menekan bendanya dari semua sisi. Dengan kata lain, gaya yang dipengaruhi fluida statis pada benda selalu tegak lurus dengan permukaan benda (Serway dan Jewett, 2009: 638). Misalnya seorang perenang menyelam di dalam air, ia akan merasakan tekanan karena air. Tekanan ini tidak hanya terasa di punggung saja tetapi juga di dada atau bagian tubuh yang lain. Ini menunjukkan bahwa air (dan fluida lain) memberikan tekanan ke segala arah, bekerja pada permukaan secara tegak lurus. Tekanan tersebut disebut Tekanan Hidrostatis (ph).
Besarnya tekanan hidrostatis tidak hanya tergantung pada bentuk bejana dan jumlah zat cair dalam bejana, tetapi juga tergantung pada massa jenis zat cair, percepatan gravitasi bumi dan kedalamannya. Secara matematis tekanan hidrostatis pada suatu titik, diturunkan dari konsep tekanan pada persamaan 2.2.
ph= =                                                                              (2.3)
Karena,                                                     (2.4)
Maka,                                                                          (2.5)
 
                                                                                                                        (2.6)

Keterangan:
ph = Tekanan Hidrostatis                                            (N/m2)
h  = Kedalaman/tinggi diukur dari permukaan fluida(m)
g  = Percepatan gravitasi                                             (m/s2)
Berdasarkan persamaan di atas, tampak bahwa tekanan berbanding lurus dengan massa jenis, percepatan gravitasi, dan kedalaman zat cair.Jika kedalaman zat cair makin bertambah, maka tekanan juga makin besar. Ingat bahwa cairan hampir tidak termapatkan akibat adanya berat cairan di atasnya, sehingga massa jenis cairan bernilai konstan di setiap permukaan. Jika perbedaan ketinggian sangat besar, seperti laut yang sangat dalam, massa jenis sedikit berbeda. Tapi jika perbedaan ketinggian tidak terlalu besar, pada dasarnya massa jenis zat cair sama atau perbedaanya sangat kecil sehingga diabaikan.
Untuk menghitung perbedaan tekanan pada setiap kedalaman yang berbeda, diturunkan persamaan 2.6 menjadi:


 
                                                                                                                        (2.7)
Keterangan:
 = perbedaan tekanan
 = perbedaan ketinggian

Sadar atau tidak setiap hari kita selalu diselimuti oleh udara. Ketika kita menyelam ke dalam air, semua bagian tubuh kita diselubungi oleh air. Semakin dalam kita menyelam, semakin besar tekanan yang kita rasakan. Sebenarnya setiap hari kita juga diselubungi oleh atmosfer yang selalu menekan seluruh bagian tubuh kita seperti ketika kita berada di dalam air. Namun kita tidak pernah merasakan tekanan atmosfer tersebut, hal ini disebabkan karena selsel tubuh kita mempertahankan tekanan dalam yang besarnya hampir sama dengan tekanan luar. Hal ini yang membuat kita tidak merasakan efek perbedaan tekanan tersebut.
Jika  tekanan udara luar/atmosfer (patm) mempengaruhi tekanan hidrostatis maka tekanan total pada suatu titik adalah
 
                                                                                                            (2.8)
Keterangan :
patm= tekanan atmosfer (atm)
1 atm = 1,013 105 Pa

Hukum Pokok Hidrostatis
            Semua titik yang terletak pada bidang datar yang sama di dalam zat cair yang sejenis memiliki tekanan yang sama (Gambar 2.5). Pernyataan inilah yang disebut sebagai Hukum Pokok Hidrostatis (Marthen, 2006: 233).
               
(Sumber: http//789science.blogspot.com)
(Sumber: http//yueembembem.blogspot.com)
     Gambar 2.5 Tekanan yang sama                                       Gambar 2.6 Pipa U
           
Jika pipa bentuk U (Gambar 2.6)diisi dua fluida yang berbeda (misalnya air dan minyak) maka pada bidang batas garis lurus akan berlaku:
                                                                                                            (2.9)
  (2.10)
 
                                                                                                                         (2.11)
Keterangan:
= massa jenis minyak  (kg/m3)
= massa jenis air           (kg/m3)
 = ketinggian minyak         (m)
 = perbedaan keinggian air (m)

Contoh Soal
1.Sebuah tempa air berbentuk kubus memiliki panjang rusuk 60 cm diisi 180 liter air (massa jenis air = 103 kg/m3). Jika g = 10 m/s2, tentukan :
a. tekanan hidrostatik pada dasar kubus;
b. gaya hidrostatik pada dasar kubus;
c. gaya hidrostatik pada titik B yangberjarak 0,25 m dari permukaan air.

Jawaban

V = 180 L = 0,18 m3;     ρ   = 103 kg/m 
g = 10 m/s2;                    A  = 0.36 m2
s = 60 cm;                     hB = 0,25 m                          
hA=  =  = 0,5
jawab :
a.       PA = ρ.g.h
= 1000.10.0,5
= 5000 Pa  
b. FA = PA.A
    = 5000.0,36
= 1800 N
c. PB = ρ.g.h
= 1000.10.0,25
 = 2500 Pa
FB = PB.A
     = 2500.0,25 = 900 N
Jadi besar tekanan hidrostatis pada dasar kubus adalah PA = 5000 Pa, gaya hidrostatis pada dasar kubus adalah FA = 1800 N, dan gaya hidrostatis pada titik B adalah FB = 900 N.

2.Sebuah pipa U yang memiliki luas penampang sama, mula-mula berisi air. Kemudian salah satu ujungnya diisi minyak setinggi 20 cm. Tentukan tinggi kenaikan air pada pipa yang lain!
       Penyelesaian:
       Diketahui:    = 0,8 gr/cm3
                     = 20 cm
                   = 1 gr/cm3
       Ditanya:      = . . . ?
       Jawab:
                                       =
                               =     
                            0,8 . 20   = 1 .
                                    =  16 cm
       Tekanan Gauge
            Tekanan gauge merupakan kelebihan tekanan di atas tekanan atmosfer. Misalnya kita tinjau tekanan ban sepeda motor. Ketika ban sepeda motor kempes, tekanan dalam ban = tekanan atmosfer (Tekanan atmosfer = 1,01 x 105 Pa = 101 kPa). Ketika ban diisi udara, tekanan ban pasti bertambah. Ketika tekanan ban menjadi lebih besar dari 101 kPa, maka kelebihan tekanan tersebut disebut juga Tekanan Gauge (Alexander, 2008: 13). Secara sistematis, dapat ditulis dalam persamaan:
 
                                                                                                                        (2.12)
                                                                                                                       
Keterangan:
   = tekanan gauge
pabs = tekanan absolut
patm = tekanan atmosfer
Dalam system satuan di Inggris satuan psig digunakan untuk satuan tekanan gauge.

       Tekanan Mutlak/Absolut
                   Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada lapisan atas zat cair bekerja tekanan atmosfer. Tekanan absolut adalah jumlah tekanan atmosfer dengan tekanan terukur. Jadi untuk mendapatkan tekanan absolut, kita menambahkan tekanan terukur dengan tekanan atmosfer. Dengan kata lain, tekanan absolut disebut juga tekanan total. Secara matematis dapat ditulis:
 
                                                                                                                               (2.13)
       Keterangan:
            = tekanan absolut
p          = tekanan yang diukur
    = tekanan atmosfer

       Alat Ukur Tekanan
                   Pada segmen prakiraan cuaca dalam suatu program televesi, tekanan barometik terkadang diberitahukan pada pemirsa. Tekanan tersebut merupakan tekanan atmosfer saat ini yang berubah dalam batas kecil dari nilai standar yang telah disediakan sebelumnya. Alat yang digunakan untuk menghitung tekanan atmosfer adalah barometer umum, yang diciptakan oleh Evangelista Torricelli (1608-1647). Sebuah tabung panjang yang ditutup di salah satu sisinya diisi dengan raksa dan kemudian dijungkirbalikkan pada suatu nampan berisi raksa (Gambar 2.7). Ujung yang tertutup dari tabung nyaris hampa, sehingga tekanan di ujung bagian atas kolom raksa dapat dianggap nol. Pada Gambar 2.7, tekanan pada titik A akibat kolom raksa, haruslah sama dengan tekanandi titik B, akibat dari atmosfer. Jika tidak demikian, maka akan ada gaya netto yang akan memindaahkan raksa dari satu titik ke titik lainnya sampai kondisi keseimbangannya tercapai. Ketika tekanan atmosfernya berubah, maka tinggi kolom raksanya juga berubah sehingga ketinggiannya dapat dikalibrasi untuk menghitung tekanan atmosfer.
                   Sebuah alat untuk mengukur tekanan gas di dalam kapal laut adalah manometer tabung terbuka yang ditunjukkan pada Gambar 2.8. Salah satu ujung dari pipa U yang berisi cairan berhubungan langsung dengan atmosfer, dan ujung lainnya berhubungan dengan sistem yang tekanannya tidak diketahui (P). Tekanan dititik A dan B harus sama (jika tidak, bagian dari cairan yang membentuk kurva akan mengalami sebuah gaya netto dan akan bergerak dipercepat), dan tekanan di A adalah tekanan gas yang tidak diketahui.
                 
Gambar 2.7 Barometer                   Gambar 2.8 Manometer
            (Sumber: Fisika untuk Sains dan Teknik oleh Serway & Jewett)
                   Dengan menerapakn hukum pokok hidrostatis di titik A dan B, maka
untuk manometer (Gambar 2.8) :
      
                                                                                                                               (2.14)
       Untuk barometer(Gambar 2.7) :

                                                                                                                              
(2.15)

2.2  Hukum-Hukum Dasar Fluida Statis serta Penerapannya
2.2.1        Hukum Pascal          
               Atmosfir bumi memberikan tekanan pada semua benda yang bersentuhan dengannya, termasuk fluida lainnya. Tekanan luar yang bekerja pada fluida disalurkan ke seluruh fluida. Ini merupakan prinsip umum yang dicetuskan oleh filsuf dan ilmuwan Prancis Blaise Pascal ( 1623-1662 ). Hukum pascal adalah salah satu hukum dalam ilmu fisika yang berhubungan dengan zat cair dan gaya-gaya yang ada padanya.
Prinsip Pascal menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada fluida dalam suatu tempat akan menambah tekanan keseluruhan dengan besar yang sama Tekanan yang ada didalam bejana sama besar. (Giancoli, 2001). Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan :
              
              

Dengan, P = tekanan benda ( Pa)
               F = gaya yang bekerja (N)
A = luas penampang benda (m2)
Dalam satuan SI pascal disimbolkan dengan Pa. Satu pascal setara dengan satu newton per meter persegi.

Penerapan Prinsip Pascal dalam Kehidupan Sehari-hari
a.      Dongkrak hidrolik
Gambar 4. Dongkrak hidrolik
Prinsip kerja dongkrak hidrolik adalahdenganmemanfaatkan hukum Pascal.  Dongkrak hidrolik terdiri dari dua tabung berhubungan yang memiliki diameter berbeda ukuran. Masing- masing ditutup dan diisi air. Mobil diletakkan di atas tutup tabung yang berdiameter besar. Jika kita memberikan gaya yang kecil pada tabung yang berdiameter kecil, tekanan akan disebarkan secara merata ke segala arah termasuk ke tabung besar tempat diletakkan mobil. Dengan menaikturunkan piston, maka tekanan pada tabung pertama akan dipindahkan ke tabung kedua sehingga dapat mengangkat beban yang berat.
b.      Mesin Pengangkat mobil
Gambar 5. Mesin Pengangkat mobil
Aplikasi hukum pascal berikutnya adalah mesin hidrolik pengangkat mobil ini memiliki prinsip yang sama dengan dongkrak hidrolik. Perbedaannya terletak pada perbandingan luas penampang pengisap yang digunakan. Pada mesin pengangkat mobil, perbandingan antara luas penampang kedua pengisap sangat besar sehingga gaya angkat yang dihasilkan padapipa berpenampang besar dan dapat digunakan untuk mengangkat mobil.
  1. Tensimeter atau sfigmomanometer
Gambar 6. Tensimeter
Prinsip kerjanya, cairan yang tekanannya akan diukur harus memiliki berat jenis yang lebih rendah dibanding cairan manometrik, oleh karena itu pada alat pengukur tekanan darah dipilih air raksa sebagai cairan manometrik karena air raksa memiliki berat jenis yang lebih besar dibandingkan dengan berat jenis darah. Berikut skema pengukuran tekanan menggunakan manometer. Tekanan dalam fluida statis adalah sama pada setiap tingkat horisontal (ketinggian) yang sama, sehingga untuk lengan tangan kiri manometer untuk lengan tangan kanan manometer. Disini kita mengukur tekanan tolok (gauge pressure), kita dapat menghilangkan P atmosfer. Dari persamaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tekanan pada A sama dengan tekanan cairan manometrik pada ketinggian h2 dikurangi tekanan cairan yang diukur pada ketinggian h2. Dalam kasus alat pengukur tekanan darah yang menggunakan air raksa, berarti tekanan darah dapat diukur dengan menghitung berat jenis air raksa dikali gravitasi dan ketinggian air raksa kemudian dikurangi berat jenis darah dikalikan gravitasi dan ketinggian darah. Tekanan yang ada dibola sama dengan tekanan yang berada di  , maka dapat dirumuskan :
  1. Rem hidrolik
Gambar 7. Rem Hidrolik
Setiap rem mobil dihubungkan oleh pipa-pipa menuju ke silinder master. Pipa-pipa penghubung dan master diisi penuh dengan minyak. Ketika kaki menekan pedal rem, master silinder tertekan. Tekanannya diteruskan oleh minyak rem ke setiap silinder rem (ada 4 buah). Gaya tekan pada silinder rem menekan sepasang sepatu rem sehingga, menjepit piringan logam. Akibatnya, jepitan ini menimbulkan gesekan pada piringan yang melawan arah gerak piringan hingga akhirnya menghentikkan putaran roda.

  1. Pompa hidrolik
Gambar 8.PompaHidrolik  BanSepeda
 









Pompa hidrolik menggunakan energi kinetik dari cairan yang dipompakan pada suatu kolom dan energi tersebut diberikan pukulan yang tiba-tiba menjadi energi berbentuk lain (energi tekan). Pompa ini berfungsi untuk mentransfer energi mekanik menjadi energi hidrolik. Pompa hidrolik bekerja dengan cara menghisap oli dari tangki hidrolik dan mendorongnya kedalam sistem hidrolik dalam bentuk aliran (flow). Aliran ini yang dimanfaatkan dengan cara merubahnya menjadi tekanan. Tekanan dihasilkan dengan cara menghambat aliran oli dalam sistem hidrolik.
Hambatan ini dapat disebabkan oleh orifice, silinder, motor hidrolik, dan aktuator. Pompa hidrolik yang biasa digunakan ada dua macam yaitu positive dan nonpositive displacement pump. Ada dua macam peralatan yang biasanya digunakan dalam merubah energi hidrolik menjadi energi mekanik yaitu motor hidrolik dan aktuator. Motor hidrolik mentransfer energi hidrolik menjadi energi mekanik dengan cara memanfaatkan aliran oli dalam sistem merubahnya menjadi energi putaran yang dimanfaatkan untuk menggerakan roda, transmisi, pompa dan lain-lain.






  1. Alat press hidrolik pada Pengepress Kapas
Gambar 9. Mesin Pengepress Kapas
               Prinsip kerja alat press hidrolik, silinder kecil terdiri dari sebuah pompa yang akan menekan cairan dibawah pengisap kecil. Tekanan pada pengisap kecil akan diteruskan oleh cairan dengan besar sama kuat menuju penghisap besar pada silinder yang besar. Akibatnya akan ada dorongan ke atas pada pengisap besar. Dorongan ini akan mengepress kapas yang diletakkan pada sebuah ruang diatas pengisap besar.
Contoh Soal:
Alat pengangkat mobil yang memiliki luas pengisap masing-masing sebesar 0,10 m2 dan 2 × 10–4 m2 digunakan untuk mengangkat mobil seberat 104 N. Berapakah besar gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil?
Jawab:             F1/A1 = F2/A2  
104/0,1 = F1/2 × 10–4
100.000 = F1/2 × 10–4
F1 = 20 N

2.2.2        Hukum Archimedes
Hukum Archimedes adalah sebuah hukum tentang prinsip pengapungan diatas benda cair yang ditemukan oleh Archimedes (287-212 SM), seorang ilmuwan Yunani yang juga merupakan penemu pompa spiral untuk menaikan air yang dikenal dengan istilah Sekrup Archimedes. Hukum Archimedes berhubungan dengan gaya berat dan gaya ke atas suatu benda jika dimasukan kedalam air. Bunyi hukum Archimedes, "Bila sebuah benda diletakkan di dalam fluida, maka fluida tersebut akan memberikan gaya ke atas (FA) pada benda tersebut yang besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut".
                       




                  Gambar 10.  Berat benda dalam zat cair dan berat sesungguhnya

Dari gambar  dapat kita lihat bahwa besarnya berat benda di udara (WU) adalah:
Wudara = WU = m .g ..................................................(1)
Sedangkan berat benda di dalam air (Wair), yaitu :
Wair = WU – Fa = m.g – Fa    ......................................(2)
dimana:    m = massa benda (kg)
g = percepatan grafitasi bumi (m/det2)
W = berat benda (N)
Fa = gaya ke atas (N)
Dari persamaan (2) di atas tampak jelas bahwa Wair lebih kecil dari Wudara. Hal ini terjadi karena ada gaya apung ke atas yang dikerjakan oleh fluida. Gaya apung terjadi karena tekanan dalam sebuah fluida naik sebanding dengan kedalaman. Dengan demikian, tekanan ke atas pada permukaan bawah benda yang tenggelam lebih besar daripada tekanan ke bawah pada permukaan atas benda. Gaya apung didefinisikan sebagai selisih antara gaya ke atas yang dilakukan oleh fluida di bagian bawah benda dengan gaya ke bawah yang dilakukan oleh fluida di bagian atas benda (Satriawan, 2007).

Gambar 11. Berat benda di air diukur menggunakan neraca pegas
Secara matematis, hukum Archimedes dapat ditulis sebagai berikut:
Gaya ke atas = Berat fluida yang dipindahkan.
    Fa = Wf
    Fa = mf .g               ....................................(4)
Dari persamaan :
mf = ρf . v
Sehingga :
Fa = ρf .g .vbf            

Dimana :          Fa = gaya ke atas (N)
ρf = massa jenis fluida (kg/m3)
g = Percepatan grafitasi bumi (m/det2)
vbf = volume benda yang tercelup dalam fluida (m3)
Jika benda diletakkan di dalam zat cair, maka akan memiliki 3 macam keadaan:
1.      Benda Tenggelam




                                                                       
                                    Gambar 12. Benda Tenggelam
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda (w) lebih besar dari gaya ke atas (Fa)
W > Fa
ρb . Vb . g > ρa .Va . g
ρb > ρa
Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (ρ).
2.      Benda Melayang



Gambar 13. Benda Melayang
                     Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda (w) sama dengan gaya ke atas (Fa) atu benda tersebut tersebut dalam keadaan setimbang
w = Fa
ρb .Vb . g = ρa . Va . g
ρb = ρa
3.      Benda Terapung



Gambar 14. Benda Terapung

Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda (w) lebih kecil dari gaya ke atas (Fa).
w < Fa
ρb . Vb . g < ρa . Va . g
ρb < ρa
Selisih antara W dan FA disebut gaya naik (Fn).
Fn =  FA - W
Benda terapung tentunya dalam keadaan setimbang, sehingga berlaku :
FA = W . Vb2 . g  =  rb . Vb1 . g
Dengan:
FA     = Gaya ke atas yang dialami oleh bagian benda yang tercelup di dalam zat cair.
              Vb1    = Volume benda yang berada dipermukaan zat cair.
              Vb2    = Volume benda yang tercelup di dalam zat cair.
              Vb     = Vb1 + Vb 2

              FA’    =  rc . Vb2 . g
Berat (massa) benda terapung = berat (massa) zat cair yang dipindahkan

Penerapan  Hukum Archimedes dalam Kehidupan Sehari-hari
a.      Hidrometer
Hidrometer merupakan alat untuk mengukur berat jenis atau massa jenis zat cair. Hidrometer terbuat dari tabung kaca. Agar tabung kaca tersebut terapung dan tegak dalam zat cair, maka bagian bawahnya diberi butiran timbal yang berfungsi sebagai beban. Makin besar massa jenis zat cair, makin sedikit bagian hidrometer yang tenggelam. Hidrometer banyak digunakan untuk mengetahui besar kandungan air pada bir atau susu.
Gambar 15.  Hidrometer
Cara penggunaannya adalah dengan mencelupkan hidrometer ke dalam zat cair. Di dalam zatcair, hidrometer akan mengapung karena adanya gaya ke atas oleh zat cair. Kedalaman hidrometer berbeda-beda bergantung pada jenis zat cair. Apabila massa jenis zat cair semakin besar, tangkai hidrometer yang terlihat muncul dari permukaan zat cair semakin panjang. Sebaliknya, apabila massa jenis zat cair semakin kecil, tangkai hidrometer yang terlihat pada permukaan zat cair semakin pendek. Massa jenis yang diukur merupakan massa jenis relatif. Massa jenis relatif adalahperbandingan antara massa jenis zat cair yang diukur dan massa jenis air.
Dasar matematis prinsip kerja hidrometer adalah sebagai berikut:
Gaya keatas = Berat Hidrometer

Gambar 16. PrinsipKerja
 






a.     
Gambar 17. Kapal selam

Kapal Selam
Kapal selam adalah salah satu jenis kapal laut yang dapat mengapung, melayang, dan tenggelam. Kapal selam menggunakan prinsip yang sama dengan kapal laut ketika mengapung di permukaan laut. Pada kapal selam terdapat rongga yang terletak di antara lambung dalam dan lambung luar. Rongga ini memiliki katup di bagian atas dan bagian bawahnya. Rongga ini berfungsi sebagai jalan keluar masuk udara dan air.
Pada saat mengapung di permukaan air, rongga ini hanya berisi sedikit air laut sedemikian rupa hingga gaya ke atas oleh air laut lebih besar dibandingkan gaya berat kapal. Apabila kapal selam akan melayang di dalam air, katup yang ada di bagian bawah kapal akan dibuka sehingga air laut masuk ke rongga. Demikian pula halnya dengan katup di bagian atas. Katup tersebut akan terbuka untuk mengeluarkan udara. Air yang diisikan ke dalam rongga tidaklah penuh, namun diusahakan agar gaya berat kapal dan gaya ke atas air laut sama besar sehingga kapal dapat melayang. Supaya kapal dapat tenggelam, rongga ini harus ditambahkan air (Nuhroman, 2009).
b.      Kapal Laut
Gambar 18.KapalLaut



Kapal laut dapat mengapung di permukaan air karena adanya rongga di dalam tubuh kapal. Rongga ini berisi udara sehingga mampu memindahkan volume air yang cukup besar, Oleh karena volume air yang dipindahkan cukup besar, kapal akan mendapat gaya tekan ke atas yang menyamai berat kapal. Gaya ke atas ini mampu rnenahan kapal laut tetap berada di permukaan air.
Gambar 19. Jembatan Piston





c.       Jembatan Ponton
Jembatan ponton adalah kumpulan drum-drum kosong yangberjajar sehingga menyerupai jembatan. Jembatan ponton merupakan jembatan yang dibuat berdasarkan prinsip benda terapung. Drum-drum tersebut harus tertutup rapat sehingga tidak ada air yang masuk ke dalamnya.
Jembatan ponton digunakan untuk keperluan darurat. Apabila air pasang, jembatan naik. Jika air surut, maka jembatan turun. Jadi, tinggi rendahnya jembatan ponton mengikuti pasang surutnya air.
d.      Balon Udara
Balon udara panas  adalah teknologi penerbangan pertama oleh               manusia, ditemukan oleh Montgolfier bersaudara yang berasal dari AnnonayPerancis pada 1783. Balon udara ini dapat melayang karena di dalam balon tersebut berisi gas hydrogen atau helium. Massa jenis gas tersebut lebih ringan dibandingkan dengan udara (Nuhroman, 2009).
Gas dalam balon ini merupakan udara panas. Jadi, ketika awak balon udara hendak menerbangkan balonnya, ia harus menambahkan udara panas ke dalam balon. Jika balon udara sudah mencapai ketinggian yang dikehendaki. udara panas dikurangi sehingga gaya ke atas sama dengan berat balon. Jika ingin turun, gaya ke atas harus lebih kecil daripada berat balon udara. yaitu dengan mengurangi udara panas. Jadi, udara mmiliki sifat yang sama dengan zat cair. Semakin besar volume udara yang dipindahkan balon udara, semakin besar pula gaya ke atas udara terhadap balon.

Gambar 20. Balon Udara






CONTOH SOAL : 
 Sebuah Benda dicelupkan ke air yang massa jenisnya 1000 Kg/m3. Volume benda yangtercelup 1.5 m3, berapakah gaya ke atas yang dialami benda?
 Diketahui : ρ = 1000 Kg/m3
g = 9.8 m/s2
V = 1.5 m3
Ditanyakan: FA? ........
Jawab :
FA = ρ.g.V FA
= 1000 Kg/ m3.9,8 m/.1,5 m3 FA
 = 14.700 N
 Jadi, gaya ke atas yang dialami benda adalah 14.700
2.3  TEGANGAN PERMUKAAN

2.3.1  Tegangan Permukaan                       
Tegangan permukaan merupakan gaya  yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu.Untuk dapat memahami konsep tegangan permukaan  bisa dilakukan percobaan sederhana. Misalnya dengan meletakan klip di atas air secara perlahan-lahan. Jika hal ini dilakukan secara baik dan benar, maka klip tersebut akan mengapung di atas permukaan air. Pada umumnya, klip terbuat dari logam, sehingga klip mempunyai massa jenis lebih besar dari massa jenis  air. Karena massa jenis klip lebih besar dari massa jenis air, maka seharusnya klip itu tenggelam. Namun, kenyataannya klip terapung, seperti yang terlihat pada Gambar 2.25.Fenomena ini merupakan salah satu contoh dari adanya Tegangan Permukaan.
Untuk menjelaskan fenomena klip yang terapung di atas air, terlebih dahulu harus diketahui apa sesungguhnya tegangan permukaan itu. Tegangan permukaan terjadi karena permukaan zat cair yang cenderung untuk menegang sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Perhatikan Gambar 2.26.
B
A
Gambar 2.25Klip terapung
Gambar 2.26  Partikel A dan partikel B.
   
(Sumber:http//agnes-sahabat.blogspot.com)
(Sumber: www.fisikaasyik.com)
 


Pada Gambar 2.26,A mewakili pertikel di dalam zar cair, sedangkan B mewakili partikel di permukaan zat cair. Partikel A ditarik oleh gaya yang sama besar ke segala arah oleh partikel-partikel di dekatnya. Sehingga, resultan gaya pada partikel-partikel di dalam zat cair (diwakili oleh A) adalah sama dengan nol dan di dalam zat cair tidak ada tegangan permukaan.
Partikel B ditarik oleh partikel-partikel yang ada di samping dan di bawah dengan gaya-gaya yang sama besar, tetapi B tidak ditarik oleh partikel-partikel di atasnya, karena di atas B tidak ada zat cair.Sehingga, terdapat resultan gaya berarah ke bawah yang bekerja pada permukaan zat cair. Resultan gaya ini menyebabkan lapisan-lapisan atas seakan-akan tertutup oleh hamparan selaput elastik yang ketat. Selaput ini cenderung menyusut sekuat mungkin.Oleh karena itu, sejumlah tertentu cairan cenderung mengambil bentuk dengan permukaan sesempit mungkin.Inilah yang disebut dengan tegangan permukaan(Alexander, 2008: 34).
Akibat tegangan permukaan ini, setetes cairan cenderung berbentuk bola.Karena dalam bentuk bola, cairan mendapatkan daerah permukaan yang sempit. Inilah yang menyebabkan tetes air yang jatuh dari kran dan tetes-tetes embun yang jatuh pada sarang laba-laba berbentuk bola.
Tarikan pada permukaan cairan membentuk semacam kulit penutup yang tipis. Nyamuk dapat berjalan di atas air karena berat nyamuk dapat diatasi oleh kulit ini. Peristiwa yang sama terjadi pada klip kertas yang perlahan-lahan diletakkan di atas permukaan air.

Persamaan Tegangan Permukaan
            Pada Gambar 2.27 menunjukkan contoh lain dari tegangan permukaan. Sebuah kawat yang dibengkokkan membentuk huruf U. Seutas kawat kedua yang berbentuk lurus dikaitkan pada kedua kaki kawat U, di mana kawat kedua tersebut bisa digerakkan.
(Sumber: http//agnes-sahabat.blogspot.com)
Gambar 2.27  Kawat kedua cenderung meluncur ke atas.
           
Jika kawat ini dimasukan ke dalam larutan sabun, maka setelah dikeluarkan pada permukaan kawat tersebut akan terbentuk lapisan air sabun. Karena kawat lurus dapat digerakkan dan massanya tidak terlalu besar, maka lapisan air sabun akan memberikan gaya tegangan permukaan pada kawat kedua sehingga kawat kedua bergerak ke atas (perhatikan arah panah pada Gambar 2.27).Untuk mempertahankan kawat kedua tidak bergerak (kawat berada dalam kesetimbangan), maka diperlukan gaya total yang arahnya ke bawah, di mana besarnya gaya total adalah F = w + T. Dalam kesetimbangan, F = gaya tegangan permukaan yang dikerjakan oleh lapisan air sabun pada kawat lurus.
            Misalkan panjang kawat kedua adalah l. Karena lapisan air sabun yang menyentuh kawat kedua memiliki dua permukaan, maka gaya tegangan permukaan yang ditimbulkan oleh lapisan air sabun bekerja sepanjang 2l.Tegangan permukaan pada lapisan sabun merupakan perbandingan antara Gaya Tegangan Permukaan (F) dengan panjang permukaan di mana gaya bekerja (d). Untuk kasus ini, panjang permukaan adalah 2l. Secara matematis, ditulis:
=
 
                                                                            
                                                                                                            (2.30)
Dalam kasus ini d = 2l, sehingga
=
 


                                                                                                            (2.31)
Keterangan:
l = Panjang permukaan/batang (m)
 = Tegangan permukaan (N/m)
F  = Gaya tegangan permukaan (N)
Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan antara Gaya tegangan permukaan dengan Satuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah Newton per meter(N/m)atau dyne per centimeter(dyn/cm).
1 dyn/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m




Contoh Soal
Sebatang jarum jahit sepanjang 5 cm dapat terapung di atas permukaan larutan aseton pada suhu 20°. Bila tegangan muka permukaan aseton pada suhu tersebut 22,8.10-3 N/m. Tentukan massa jarum (g= 10 m/s2).
Diketahui:       l = 5 cm = 5. 10-2 m
                         = 22, 8.10-3
                        g = 10 m/s2
Ditanya:
                        m = …?
Jawab:
                        =
         22, 8.10-3  =
         22, 8.10-3  =
                    2m = 22, 8.10-5 = 11,4,10-5 kg
            m = 11,4.10-2 gram

Penerapan Tegangan Permukaan dalam Kehidupan Sehari-hari
            Tegangan permukaan air berhubungan dengan kemampuan air membasahi benda.Makin kecil tegangan permukaan air, makin baik kemampuan air untuk membasahi benda, ini berarti kotoran-kotoran pada benda lebih mudah larut dalam air.Prinsip inilah yang banyak dimanfaatkan dalam kehidupan fisika sehari-hari.
            Mengapa mencuci dengan air panas lebih mudah dan menghasilkan cucian yang lebih bersih?Tegangan permukaan air dipengaruhi oleh suhu.Makin tinggi suhu air, makin kecil tegangan permukaan air, dan ini berarti makin baik kemampuan air untuk membasahi benda.Karena itu, mencuci dengan air panas menyebabkan kotoran pada pakaian lebih mudah larut dan cucian menjadi lebih bersih.
            Detergen sintetis modern dibuat untuk meningkatkan kemampuan air membasahi kotoran yang melekat pada pakaian, yaitu dengan menurunkan tegangan air.Banyak kotoran pakaian yang tidak larut dalam air murni, tetapi larut di dalam air yang diberi detergen.Pengaruh detergen dapat dilihat dengan meneteskan air murni dan air yang mengandung detergen ke atas lilin yang bersih.Air murni tidak membasahi lilin dan bentuk butirannya tidak banyak berubah.
Contoh dalam keseharian dapat dilihat pada itik yang berenang di air.Itik dapat berenang di air karena bulu-bulunya tidak basah oleh air. Jika air diberi detergen, tegangan permukaan pada air akan berkurang dan itik yang berusaha berenang bulu-bulunya akan basah oleh air. Sehingga, itik akan tenggelam.
            Antiseptik yang dipakai untuk mengobati luka, selain memiliki daya bunuh kuman yang baik, juga memiliki tegangan permukaan yang rendah sehingga antiseptik dapat membasahi seluruh luka.Jadi, alkohol dan hampir semua antiseptik memiliki tegangan permukaan yang rendah.

2.3.2 KAPILARITAS
1.  Gaya Kohesi dan Adhesi
Gaya Kohesimerupakan gaya tarik menarik antara molekul dalam zat yang sejenis, sedangkan gaya tarik menarik antara molekul zat yang tidak sejenis dinamakan Gaya Adhesi. Misalnya ketika menulis pada kertas menggunakan tinta.Kohesiterjadi ketika molekul tinta saling tarik menarik, sedangkan adhesiterjadi ketika molekul tinta dan molekul kertas saling tarik menarik.
 Gaya adhesi dan gaya kohesi berpengaruh pada peristiwa Kapilaritas.Misalnya jika ditinjau dari cairan yang berada dalam sebuah gelas. Ketika gaya kohesi molekul cairan lebih besar daripada gaya adhesi (gaya tarik menarik antara molekul cairan dengan molekul gelas) maka permukaan cairan akan membentuk lengkungan ke atas (konveks).  Contoh untuk kasus ini adalah ketika air raksa berada dalam tabung (Gambar 2.29b). Sebaliknya apabila gaya adhesi lebih besar maka permukaan cairan akan melengkung ke bawah (konkaf). Contohnya ketika air  berada di dalam tabung (Gambar 2.29a).
Gambar 2.29 (a) Air dalam tabung, (b) Raksa dalam tabung
Hg
air
(Sumber: www.ayumaulida22.wordpress.com)
 


Sudut yang dibentuk oleh lengkungan itu dinamakan sudut kontak (teta). Ketika gaya kohesi cairan lebih besar daripada gaya adhesi, maka sudut kontak yang terbentuk umumnya lebih besar dari 90° (Gambar 2.29b). Sebaliknya, apabila gaya adhesi lebih besar daripada gaya kohesi cairan, maka sudut kontak yang terbentuk lebih kecil dari 90° (Gambar 2.29a). Gaya adhesi dan gaya kohesi secara teoritis sulit dihitung, tetapi sudut kontak dapat diukur (Siti dan Rokhim, tanpa tahun: 27).

2.  Konsep Kapilaritas
Kapilaritas merupakan peristiwa naik atau turunya zat cair dalam pipa kapiler. Kapilaritas disebabkan adanya gaya adhesi atau kohesi antara zat cair dengan dinding celah itu. Akibatnya, bila pembuluh kaca dimasukkan dalam zat cair, permukannya menjadi tidak sama.Apabila gaya kohesi cairan lebih besar dari gaya adhesi, maka permukaan cairan akan melengkung ke atas. Ketika kita memasukan tabung atau pipa tipis (pipa yang diameternya lebih kecil dari wadah), maka akan terbentuk bagian cairan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, cairan yang ada dalam wadah naik melalui kolom pipa tersebut(Gambar 2.30). Hal ini disebabkan karena gaya tegangan permukaan total sepanjang dinding tabung bekerja ke atas. Ketinggian maksimum yang dapat dicapai cairan adalah ketika gaya tegangan permukaan sama atau setara dengan berat cairan yang berada dalam pipa. Jadi, cairan hanya mampu naik hingga ketinggian di mana gaya tegangan permukaan seimbang dengan berat cairan yang ada dalam pipa.
Gambar 2.30 Terdapat bagian yang lebih tinggi dari permukaan wadah.

(Sumber: www.egiemeyskaputri.wordpress.com)
 
Sebaliknya, jika gaya adhesi lebih besar daripada gaya kohesi cairan, maka permukaan cairan akan melengkung ke bawah (Gambar 2.31). Ketika kita memasukan tabung atau pipa tipis (pipa yang diameternya lebih kecil dari wadah), maka akan terbentuk bagian cairan yang lebih rendah.
(Sumber: www.egiemeyskaputri.wordpress.com)
Gambar 2.31 Terdapat bagian yang lebih rendah dari permukaan wadah.


Efek ini dikenal dengan istilah gerakan kapiler atau kapilaritasdan pipa tipis tersebut dinamakan pipa kapiler.Pembuluh darah kita yang terkecil juga bisa disebut pipa kapiler, karena peredaran darah pada pembuluh darah yang kecil juga terjadi akibat adanya efek kapilaritas.Demikian juga fenomena naiknya leleh lilin atau minyak tanah melalui sumbu.Selain itu, kapilaritas juga diyakini berperan penting bagi perjalanan air dan zat bergizi dari akar ke daun melalui pembuluh xylem yang ukurannya sangat kecil. Bila tidak ada kapilaritas, permukaan tanah akan langsung mengering setelah turun hujan atau disirami air. Efek penting lainnya dari kapilartas adalah tertahannya air di celah-celah antara partikel tanah (Alexander, 2008: 40).

3.  Persamaan Kapilaritas
Ketinggian maksimum yang dapat dicapai cairan ketika cairan naik melalui pipa kapiler terjadi ketika gaya tegangan permukaan seimbang dengan berat cairan yang ada dalam pipa kapiler. Untuk membantu  menurunkan persamaan, perhatikan Gambar 2.30.
Tampak bahwa cairan naik pada kolom pipa kapiler yang memiliki jari-jari r hingga ketinggian h. Gaya yang berperan dalam menahan cairan pada ketinggian h adalah komponen gaya tegangan permukaan pada arah vertikal :F cos θ. Bagian atas pipa kapiler terbuka sehingga terdapat tekanan atmosfer pada permukaan cairan. Panjang permukaan sentuh antara cairan dengan pipa adalah 2 π r (keliling lingkaran). Dengan demikian, besarnya gaya tegangan permukaan komponen vertikal yang bekerja sepanjang permukaan kontak adalah:
           F = d                                                                                     (2.31)
F = d cos θ                                                                                                              (2.32)
F = 2π r cosθ

 
                                                                                                                        (2.33)
Keterangan:
F = gaya tegangan permukaan            (N)
= tegangan permukaan                    (N/m)
r  = jari-jari pipa kapiler                       (m)
θ = sudut kontak
Apabila permukaan cairan yang melengkung ke atas diabaikan, maka volume cairan dalam pipa adalah :
Volume cairan = Luas permukaan pipa x Ketinggian cairan
V = Ah                                                                                                            
V = (π r2)h                                                                                                       (2.34)
            Apabila komponen vertikal dari Gaya Tegangan Permukaan seimbang dengan berat kolom cairan dalam pipa kapiler, maka cairan tidak dapat naik lagi. Dengan kata lain, cairan akan mencapai ketinggian maksimum, apabila komponen vertikal dari gaya tegangan permukaan(persamaan 2.33) seimbang dengan berat cairan setinggi h.
Sedangkan berat cairan dalam pipa kapiler adalah:
w = mg                                                                                                           
w = V ρ g        (substitusi persamaan 2.34)
w = ρ(π r2h)g                                                                                                   (2.35)
Ketika cairan mencapai ketinggian maksimum (h), Komponen vertikal dari gaya tegangan permukaan harus sama dengan berat cairan yang ada dalam pipa kapiler. Secara matematis dapat ditulis:
        F  = w                                                                                                     
2π r cos θ   =ρ(π r2h)g                                                                                 (2.36)
h =
h          =                                                                         (2.37)

                                                                                                                        (2.38)


Keterangan:
 = tegangan permukaan              (N/m)
= massa jenis fluida                     (kg/m3)
g = gravitasi                                   (m/s2)
r  = jari-jari pipa                             (m)
h = ketinggian maksimum              (m)
θ = sudut kontak

Penerapan Kapilaritas dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu fenomena yang menarik yang berhubungan dengan kapilaritas dapat adalah ketika lilin sedang menyala.Bagian bawah dari sumbu lilin yang terbakar biasanya selalu basah oleh leleh lilin.Adanya leleh lilin pada sumbu membuat lilin bisa menyala dalam waktu yang lama.
Fenomena yang sama bisa diamati pada lampu minyak(Gambar 2.32).Lampu minyak terdiri dari wadah yang berisi bahan bakar dan sumbu.Sebagian sumbu dicelupkan dalam wadah yang berisi minyak tanah, sedangkan sebagian lagi dibungkus dalam pipa kecil.Pada ujung atas pipa tersebut, disisakan sebagian sumbu.Jika menggunakan lampu minyak, maka sumbu yang terletak di ujung atas pipa kecil tersebut harus dibakar.Sumbu tersebut bisa menyala dalam waktu yang lama karena minyak tanah yang berada dalam wadah merembes ke atas, hingga mencapai ujung sumbu yang terbakar.
                                        
               
Gambar 2.33 Lampu minyak)
(Sumber: http//littlecolourfulmacaw.blogspot.com)
Gambar 2.34 Proses pengangkutan pada tumbuhan
(Sumber: http//arnisemestahati.blogspot.com)
 



Mengapa tumbuhan dapat menyerap air dan mineral dari dalam tanah?
Konsep kapilaritas digunakan dalam proses pengangkutan pada tumbuhan. Pembuluh xylem yang terdapat pada batang dan akar tumbuhan dianggap sebagai pipa kapiler. Air akan naik melalui pembuluh kayu (xylem) sebagai akibat dari gaya adhesi antara dinding pembuluh kayu dengan molekul air(Gambar 2.34).
Lalu bagaimana air dan mineral tersebut menyerap hingga mencapai ketinggian ratusan meter?
Tumbuhan memanfaatkan perbedaan tekanan air di dalam dan di luar sel pengangkut (xilem).Jadi, tumbuhan harus terus menyesuaikan tekanan di dalam sel-sel xilemnya.Saat tekanan di luar sel tinggi, maka tumbuhan harus berusaha untuk mempertahankan tekanan di dalam selnya dengan tidak menguapkannya terlalu banyak, karena hal itu dapat menyebabkan air di luar sel masuk terlalu banyak dan yang nantinya dapat menyebabkan tumbuhan kelebihan air dan membusuk. Lalu, jika  tekanan di luar sel rendah, maka tumbuhan harus menyesuaikan tekanan di dalam selnya untul lebih rendah agar air dari tumbuhan tidak keluar dari sel dan sebaliknya, air dari luar sel dapat masuk ke dalam sel. Dengan begitu, tumbuhan dapat mengambil air sebanyak-banyaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar