Rabu, 12 Oktober 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MENURUT KONSEPSI ALIRAN NATIVISME, EMPIRISME DAN KONVERGENSI



TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MENURUT KONSEPSI ALIRAN NATIVISME, EMPIRISME DAN KONVERGENSI
KELAS IB / KELOMPOK 2
NAMA :
    KADEK DWI ARISTA                                             1413021056

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
 2014
PEMBAHASAN

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Menurut Aliran Nativisme
Gambar.
Schopenhauer
            Istilah nativisme berasal dari kata natie  yang artinya adalah terlahir.  Nativisme berasal dari kata nativus (lahir); nativis (pembawaan) yang ajarannya memandang manusia (anak manusia) sejak lahir telah membawa sesuatu kekuatan yang disebut potensi (dasar).  Aliran nativisme dikenal juga dengan teori naturalisme atau teori pesimisme ini, bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang dinamakan sifat pembawaan. Para ahli yang mengikuti paham ini biasanya menunjukkan berbagai kesamaan/kemiripan antara orangtua dengan anak-anaknya. Sifat pembawaan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan individu. Pendidikan dan lingkungan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Dalam ilmu pendidikan dinamakan dengan pesimisme pedagogis.
            Tokoh aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer. Ia adalah filosof Jerman yang hidup pada tahun 1788-1860. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Prinsipnya, pandangan Nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia. Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu.
            Misalnya, anak mirip orangtuanya secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orangtua. Prinsipnya, pandangan Nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia. Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Contoh lainnya seorang anak yang berasal dari orangtua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi ke-mampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah kemampuan orangtuanya. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh orangtua juga dimiliki oleh anaknya.

Ø  Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi dalam aliran nativisme ini adalah :
a. Faktor genetik
Adalah faktor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri anak. Faktor ini menyatakan bahwa, apapun bakat yang ada pada orangtua anak, anak pun pasti akan memiliki bakat itu.
 Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar atau bisa juga ayahnya menjadi dokter maka suatu saat anaknya juga akan memiliki peluang besar menjadi dokter. Jika kedua orangtua anak itu ada yang berambut kriting kemudian anaknya tersesebut berrambut kriting juga

b. Faktor Kemampuan Anak
Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
 Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.



c. Faktor pertumbuhan Anak
Adalah faktor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Contohnya adalah saat anak berusia 5 tahun dan masuk sekolah diTK dia akan mulai menunjukan tanda-tanda bakat dia dimana semisal anak tersebut ketika diajari musik dia sangat respon dan menanggapinya terus.
Ø  Adapun tujuan Aliran Nativisme adalah :
1.       Mampu memunculkan bakat yang dimiliki. Dengan teori ini diharapkan anak-anak bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan anak-anak mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya. Contohnya anak tersebut mempunyai bakat menyanyi dan disekolahan dia diajak untuk ikut dalam paduan suara dari situlah dia akan mulai mengembangkan bakat yang dimilikinya

2.       Mendorong anak-anak mewujudkan diri yang berkompetensi. Dengan teori ini diharapkan setiap anak-anak harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain. Contohnya ketika anak-anak disekolah tentu akan ada persaingan untuk menjadi yg terbaik, didalam persaingan itulah anak-anak akan terus memacu kemampuannya agar tidak kalah dengan teman-temannya

3.       Mendorong manusia dalam menetukan pilihan. Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalh yang terbaik untuk dirinya. Contohnya adalah ketika seorang anak diajak ibunya pergi kepasar untuk membeli baju dia tentu akan memilih dan pilihan itulah yang akan membuatnya lebih bijaksana karena dia pasti memilih baju yang benar-benar cocok untuk dia.

4.       Mendorong anak-anak  untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang. Teori ini dikemukakan untuk menjadikan anak-anak berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar anak-anak  itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia. Contohnya saat disekolahan ada pemilihan ketua osis maka anak yang mencalonkan diri sebagai ketua tersebut akan mencoba menggali jati dirinya apakah mampu atau tidak menjadi seorang pemimpin. Contohnya saat disekolahan ada pemilihan ketua osis maka anak yang mencalonkan diri sebagai ketua tersebut akan mencoba menggali jati dirinya apakah mampu atau tidak menjadi seorang pemimpin


5.       Mendorong anak-anak  mengenali bakat minat yang dimiliki. Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, dengan artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan baakatnya sehingga bisa lebih optimal. Contohnya anak kecil yang diteskan IQ nya oleh orang tuanya akan lebih mudah dalam mengenali bakat dan minatnya sehingga orang tuanya tersebut dapat menempatkan anaknya sesuai bakatnya.



Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Menurut Aliran Empirisme
            Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. ). Nama asli aliran Empirisme ini adalah “ The School of British Empiricism” (aliran empirisme inggris).  Empire artinya pengalaman. Aliran empirisme berlawanan 1800 dengan aliran nativisme, karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Pada dasarnya manusia itu bisa dididik apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar/lingkungan. Sedangkan pembawaan tidak memiliki peranan sama sekali.
Gambar.
John Locke

Teorinya John Lock dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin) diartikan juga lembaran kosong, yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Aliran empirisme menimbulkan optimisme dalam bidang pendidikan. Segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh  pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas.
         Keburukan yang timbul dari pandangan ini adalah anak tidak diperlakukan sebagai anak, tetapi diperlakukan semata-mata menurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannnya dilalaikan.
Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan, pendapat empirisme dinamakan optimisme paedagogis, karena upaya pendidikan hasilnya sangat optimis dapat mempengaruhi.
Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.
            Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal. Contoh lain, ketika dua anak kembar sejak lahir dipisahkan dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Satu dari mereka dididik di desa oleh keluarga petani golongan miskin, yang satu dididik di lingkungan keluarga kaya yang hidup di kota dan disekolahkan di sekolah modern. Ternyata pertumbuhannya tidak sama. Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dikesampingkan. Padahal, ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lingkungan tidak mendukung.

Ø  Ajaran-ajaran pokok Empirisme Yaitu:
a.       Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
b.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
c.       Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
d.      Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e.       Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f.       Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.


Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Menurut Aliran Konvergensi
Gambar
Willian Stern
Tokoh aliran Konvergensi adalah  Louis William Stem, seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup tahun 1871-1939. Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil. Aliran Konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran Nativisme dan Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan perkembangan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Anak yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan menjadi semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tidak didukung oleh bakat baik yang dibawa anak.
            Sebagai contoh : anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, dia meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia meniru dan mendengarkan dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya, contoh lainnya, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu tiap anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya, misalnya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Inggris, atau bahasa Makassar, dan lain-lain. Kemampuan dua orang anak (yang tinggal dalam satu lingkungan sama) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan kuantitas pembawaan dan perbedaan situasi lingkungan, meskipun lingkungan kedua anak tersebut menggunakan bahasa yang sama.
            William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan. Karena itu, teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat ke satu titik). Menurut teori konvergensi ada tiga prinsip :
1.         Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
2.    Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan    kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik, dan
3.    Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
            Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu. Variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia. Seperti strategi disposisional/konstitusional, strategi phenomenologis/humanistik, strategi behavioral, strategi psikodinamik/psiko-analitik, dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam belajar mengajar, variasi pendapat itu telah menyebabkan munculnya berbagai teori belajar dan atau teori/model mengajar. Jadi tegasnya proses pendidikan adalah hasil kejasama dari faktor-faktor yang dibawa ketika lahir dengan lingkungan. Melainkan Alferd Adler dengan pengikut – pengikutnya misalnya telah mengadakan studi yang mendalam mengenai sifat – sifat khas anak dalam hubungan dengan kedudukkannya dalam struktur keluarga, sperti misalnya anak sulung, anak bungsu, anak tunggal, anak yang semua saudaranya berlainan jenis dengan dia sendiri dan sebagainya. Mereka menunjukkan sifat – sifat yang khas bukan karena keturunan tetapi justru karena kedudukkan mereka dalam struktur keluarga yang khas, yang menyebabkan adanya sikap yang khas dari orang – orang tua serta anggota – anggota keluarga yang lain yang lebih dewasa. Juga mereka beranggapan bahwa kemiripan – kemiripan yang ada antara anak – anak dengan orang tua mereka tidaklah berakar pada sasar keturunan, melainkan berakar pada lingkungan , yaitu peniruan : dalam perkembangannya anak meniru orang – orang dewasa dan karena pergaulannya terutama pada orang tuanya, maka yang menjadi obyek atau model peniruan adalah orang tua mereka sendiri.
            Langeveld secara fenomenalogis mencoba menemukan hal – hal apakah yang memungkinkan perkembangan itu menjadi orang dewasa, dan dia menemukan hal – hal berikut :
a.       Justru karena anak itu adalah mahluk hidup (mahluk biologis) maka dia berkembang.
b.      Bahwa anak itu pada waktu masih sangat muda adalah sangat tidak berdaya, dan suatu keniscayaan bahwa dia perlu berkembang menjadi lebih berdaya.
c.       Bahwa kecuali kebutuhan – kebutuhan biologis anak memerlukan adanya perasaan aman, karena itu perlu adanya pertolongan atau perlindunan dari orang yang mendidik mereka.
d.      Bahwa di dalam perkembangannya anak tidak pasif menerima pengaruh dari luar semata – mata, melainkan ia juga aktif mencari dan menemukan hal – hal baru.
Jika hal – hal yang dikemukakan di atas itu dapat disebut sebagai azas, maka ada empat azas dalam perkembangan itu, yaitu :
a.       Azas biologis
Anak adalah makhluk hidup (makhluk biologis) dimana salah satu cirri makhluk hidup adalah berkembang, maka sesuai dengan cirri makhluk hidup, anak akan mengalami perkembangan. Supaya perkembangan anak berlangsung secara normal maka keadaan biologis harus normal pula. Keadaan biologis yang cacat akan menimbulkan kelainan-kelainan dalam perkembangannya. Untuk mencapai perkembangan yang normal maka kebutuhan-kebutuhan biologis harus terpenuhi secara normal pula.

b.      Azas ketidak berdayaan
Anak kecil adalah makhluk yang tidak berdaya, tetapisetelah dia mengalami perkembangan dia lama kelaman akn lebih berdaya. Jika perkembangan hewan cukup dengan insting-instingnya tetapi anak manusia hidup dalam dunia terbuka sehingga perkembangannya tidak dibatasi oleh instingnya.

c.       Azas keamanan
Anak memerlukan rasa aman, karena itu dalam perkembangan anak sangat perlu kenyamanan dan adanya perlindungan dari orang yang mendidik. Inti dari perlindungan ini adalah kasih sayang orang tua. Kurangnya kasih sayang orang tua akan cenderung mengganggu perkembangan perasaan.

d.      Azas eksplorasi
Dalam proses perkembangan anak semata-mata tidak hanya menerima pengaruh dari luar semata, akan tetapi anak tersebut juga harus turut aktif mencari dan menemukan. Hal ini dilakukan dengan cara dengan fungsi jasmaniah (mulut, kaki). setelah bertambah umurnya eksplorasi juga dilakukan dengan fungsi panca indera. Justru di dalam eksplorasi itulah individu itu berkembang.
            Kenyataannya pertama ialah bahwa anak itu merupakan mahluk hidup maka dia berkembang. Terutama pad anak – anak yang masih muda dipenuhinya secara normal kebutuhan – kebutuhan biologis itu merupakan hal yang mutlak. Contoh anak yang kekurangan makanan pasti akan sakit, dan dalam hal ini mengakibatkan lebih lambat perkembangannya.
           
Kenyataan kedua ialah bahwa pada waktu dilahirkan anak manusia adalah jauh sangat tidak berdaya jika misalnya kita bandingkan dengan anak hewan. Secara hakikat diperlukan untuk menjamin keberadaan di dunia ini, maka peranan instink dalam kehidupan manusia tidak sepenting itu. Kalau hewan hidup pada dunia yang tertutup, maka manusia hidup di dunia yang terbuka. Kenyataan yang ketiga adalah bahwa karena tidak berdayaan itu manusia yang sangat muda membutuhksn pertolongan.
PERTANYAAN  DAN JAWABAN DISKUSI
1.      1413021039
Dialiran konvergensi terdapat 4 asas dalam perkermbangan. Sebutkan dan jelaskan beserta contohnya.
Jawaban
1.      Asas biologis bahwa anak adalah makhluk hidup yang berkembang
2.      Asas ketidakberdayaaan  bahwa dari ketidak berdayaan untuk anak berkesempatan untuk berkembang.
3.      Asas keamanan bahwa kasih saying dan rasa aman sangat berpengaruh terhadap perkembang.
4.      Asas eksplorasi adalah proses perkembangan yang sebenarnya mulai mengenal fungsi jasmani dan kejiwaan.

2.      1413021045
Hal apa saja yang dapat dilakukan agar anak kecil mengtahui bakat dalam dirinya?
Jawaban
Dengan cara pengenalan lingkungan dari orangtua kepada anaknya. Seperti, belajar berbicara,belajar berjalan dan masih banyak lagi. Tapi, jika di lingkungan sekolah apabila ingin mengetahui secara akurat bakat seorang anak,bisa melalui tes IQ.

3.      1413021032
Apa yang mempengaruhi aliran nativisme pada perkembangan anak?
Jawaban
Aliran nativisme dikenal juga dengan teori naturalism ini juga menekanan kemampuan dari dalam diri anak. Sehingga faktor lingkungan atau faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak dalam proses perkembangan. Hasil perkembangan ini ditentukan oleh pembawaan yang sudah di peroleh sejak lahir karena anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang dinamakan sifat pembawaan.  Oleh karena itu, menurut aliran nativisme pendidikan kurang berpengaruhi ,karena teori ini menekankan pada naturalism.

4.      1413021057
Ada faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam aliran nativisme,tadi dijelaskan ada faktor genetic yang contoh nya Ahmad Dani dan Maya Estianti adalah seorang musisi sehingga anaknya menjadi seorang musisi juga. Apakah benar itu faktor genetic,bukankah itu faktor kemampuan anak ?
Jawaban
Contoh Ahmad Dani dan Maya Estianti adalah seorang musisi sehingga anaknya menjadi seorang musisi juga, hal ini merupakan faktor kemampuan anak. Karena apabila faktor genetic, akan beda artinya seperti orangtuanya berambut keriting.kemungkinan anaknya berambut keriting juga. Jika factor kemampuan anak itu berarti kemampuan yang dimiliki anak tersebut sejak ia lahir. Sifat-sifat atau pembawaan orangtua turun ke anaknya.

5.      1413021059
Apakah alasan anda untuk menguatkan 3 faktor yang telah dijelakan ( Nativisme, Empirisme,dan Konvergensi)
Jawaban
            Menurut Aliran nativisme, bernama Arthur Schopenhauer berperinsip bahwa nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir kedunia yaitu daya – daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter.
            Menurut Aliran Empiris, bernama Jhon Lock berperinsip bahwa segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan,mulai dari Watak, sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh pendidikan dan dialiran ini pendidikan mempunyai banyak pengaruh penanan penting dalam kehidupan.
            Menurut Aliran Konvergensi, bernama Louis William Stem  berprinsip bahwa aliran ini merupakan gabung antara aliran nativisme dan aliran empirisme yaitu berpendapat bahwa anak lahir didunia ini telah memiliki bakat baik dan buruknya, selanjutnya perkembangan anak dipengaruhi lingkungan  yang kemungkinan sudah dibawa sejak lahir.
            Karena dalam masing – masing aliran memiliki keterkaitan satu sama lain. Tidak ada yang sempurna dan tidak ada juga yang tidak baik.Ketiga aliran tersebut saling melengkapi .Karena masing –masing aliran-aliran tersebut dilihat dari kenyataan atau fakta yang ada dalam kehidupan nyata. Sebelumnya juga pandangan masing-masing para ahli berbeda, sehingga menghasilkan pendapat yang berbeda-beda pula. Seiring berjalannya waktu, aliran-aliran itu akan di kembangkan oleh filosof-filosof yang lainnya sampai sekarang yang diyakini saat ini yaitu aliran konvergensi.


6.      1413021035
Bagaimana cara mengembangkan anak menurut aliran empirisme ?
Jawaban
Dengan cara  mendalami bakat yang dimiliki anak tersebut,seperti contohnya apabila seorang anak hobi dalam menari. Anak tersebut akan dianjurkan untuk mengikuti les menari,atau mengikuti ekstra kulikuler tari di sekolahnya. Hal itu untuk mengembangkan bakat menari yang telah dimiliki anak tersebut.

7.       1413021043
Apakah bisa watak seorang anak dirubah ?
Jawaban
Bisa,tapi untuk merubah watak tersebut perlu proses dan waktu yang lama tidak seperti memakan cabai langsung terasa pedasnya. Semua hal yang terjadi apabila berubah pasti memerlukan proses tidak bisa instan.


           





DAFTAR PUSTAKA
Darkusno, Koko.2009.Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan. Tersedia pada http://file.upi.edu/pdf. diakses tanggal 4 September 2014
Djumransjah,H.M.2006.Filsafat Pendidikan.Jawa Timur:Bayumedia
Purwanto, Remaja RosdakaryaNgalim. 1994. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung.
Sanaky.2010.Aliran-aliran Pendidikan. Tersedia pada http://sanaky.com/wp-content/upload/pdf. diakses tanggal 4 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar